Siang itu, Antonio sangat kelaparan. Bekal makanannya sudah habis total. Antonio seorang tua yang menghabiskan seluruh waktu hidupnya dengan mengembara.
Setelah berkuda, dengan energi yang tersisa. Antonio tiba juga di sebuah perkampungan. Perkampungan dengan ala penduduk yang penghasilannya diperoleh dari peternakan. Lama ia terdiam sebelum memberanikan diri meminta makanan pada penduduk di sana.
Akhirnya Antonio memutuskan mengetuk pintu satu rumah yang paling bagus diantara lainnya. Yang membuka pintu adalah seorang wanita muda.
“Ada yang bisa saya bantu?” ucapa wanita itu. Sebelum Antonio menjawab, wanita itu sudah mempersilakannya masuk lalu menyuguhi segelas air.
“Bolehkah saya meminta sedikit…”. Belum tuntas kalimatnya. Tiga orang anak memburu wanita itu. “Ibu..ibu…makan…ibu..lapar..” teriak mereka merengek-rengek.
“Itu hanya ada dua potong roti. Berbagilah hanya itu makanan yang kita punya.”
Antonio terkejut. Bersyukur dia belum meminta makanan pada keluarga anak tak berayah itu. Antonio pun pamit dan berterima kasih untuk segelas minuman.
Semua rumah yang dimasukinya, sama sekali tak ada makanan. Atau ada pun hanya untuk mengisi perut mereka sendiri seadanya.
Antonio berpikir tidak mungkin dia dapat memeperoleh makanan hari itu di perkampungan petani Texas.
Antonio berjalan tertatih-tatih menuju kudanya. Seorang anak kecil menghampirinya. “Aku tau dimana terdapat banyak makanan. “
“Disana” tunjuk anak itu.
“Tapi aku tidak yakin kamu bisa mendapatkannya.” Lalu anak itu pergi.
Antonio berpikir dia tak akan sanggup menunggang kuda tanpa energi yang bersisa. Akhirnya dia menuju ke rumah yang ditunjuk anak tadi.
Tok..tok…Antonio mengetuk pintu. Tok..tok.. ketuknya lagi. Lama. Akhirnya pintu dibuka. Seorang wanita tua. Matanya menyipit mengamati antonio dari ujung kaki hingga kepala. Sepintas antonio melihat ke dalam rumah wanita itu. Dari luar memang rumah itu kelihatan biasa saja, tapi di dalamnya penuh dengan barang dan perabot. Rumah itu lebih mewah dibanding rumah penduduklainnya.
“Ada perlu apa?” tanya wanita itu tak bersahabat.
“ Nama saya Antonio. Sekarang ini saya sedang mengembara. Kebetulan bekal yang saya bawa telah habis. Bolehkah Anda memberi saya sedikit makanan?”
Dahinya langsung berkerut. Menatap Antonio tidak suka. “Maaf pengemis tua saya seorang wanita tua yang sangat miskin. Saat ini saya tidak punya apa-apa apa untuk dimakan.”
Antonio tau wanita itu bohong. Diamatinya dapur yang tersusun rapi itu. Ada sebilah kapak yang tersangkut di paku dinding dapur.
“Tapi Anda masih punya kapak untuk dimakan.”
Wanita itu makin mengernyit.
“Bolehkah saya masak sup yang sangat lezat dengan kapak itu?” tanya antonio.
Berpikir kapak itu tidak dipakai lagi, wanita itu pun memberikannya. Mulailah antonio menghidupkan tungku. Meminjam tempat dan mulai merebus air yang berisi kapak itu. Wanita tua itu mengamati tanpa berkata-kata.
Antonio mulai mencicipi air yang sudah mendidih. “Coba kalau ada sepotong gajih ini pasti akan lebih enak” ucapnya pada diri sendiri. wanita itu mendengarnya lalu diam2 menuju satu lemari makanan di sudut dapur lalu menyerahkan lemak hewan itu pada antonio.
“Sudah jadi supnya?” Tanyanya lagi.
Hmm antonio menghela nafas. “Jika saja ada segenggam gandum sup kapak ini pasti akan lebih gurih dan teras” seperti semuala, antonio menyesali pada dirinya sendiri.
Wanita itu pergi lagi, dan kembali dengan dua mug gandum.
“Sudah?”
“Kalau saja ada sedikit garam pasti rasanya akan lebih nikmat, apalagi ditambah dengan macaroni. pasti rasa sup kapak ini adalah makanan terlezat di dunia.”
Lagi-lagi wanita tadi membuka lemari makanan nya dan menyerahkan garam dan makaroni”
“Sudah?” tanya wanita itu.
Selesai.
Mereka pun menikmati sup kapak itu bersama yang ternyata rasanya begitu lezat.
saduran_cerita asing
dongeng yang kubaca saat kelas 4 sd klo gak salah, tp masi inget ampe skrg. sebenarnya gtw lg bukunya kmn,,jd resaikel ulang pke bahasa sendiri..^^
Recent Comments